Kegelisahan Kronis

November 10th, 2008 by dpdri2009
Empat bulan setelah pendaftaran diri saya sebagai anggota DPD RI. Pada awalnya Saya tidak yakin dengan diri saya sendiri. Dengan mempertimbangkan saya pernah menjadi guru di Ponpes As’ad beberapa tahun yang lalu, terakhir sebagai anggota KPU Kota Jambi dan keterlibatan secara tidak langsung di beberapa Ormas dan Okp serta kesiapan dari beberapa teman yang menyarankan agar saya mencalonkan diri untuk membantu, menjadikan saya saat ini sebagai salah satu calon Anggota DPD RI dapil Propinsi Jambi setelah beberapa waktu yang lalu tepatnya tgl. 31 Oktober 2008 telah ditetapkannya Daftar Calon Tetap ( DCT ) Anggota DPD RI oleh KPU.
Dalam diri saya, salah satu kekurangan yang sudah terbukti adalah kegelisahan kronis; ketidakmampuan untuk mengapresiasi, semua itu tidak masalah bagi saya dibandingkan dengan semua karunia yang telah diberikan kepada saya. Ini merupakan kekurangan yang menjadi endemik bagi kehidupan modern dan kekurangan yang tampak paling jelas dalam kehidupan politik. Sangat mungkin, konsekuensi dari kegelisahan itulah yang juga menyebabkan saya memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPD periode ini.
Saya telah melakukan apa yang harus dilakukan oleh setiap kandidat - pertama kalinya : Saya mengumpulkan dukungan pemilih minimal 2.000 dari pemilih yang dibuktikan dengan pernyataan dukungan dan photo copy KTP sebagai syarat dalam proses pencalonan serta lolos verifikasi faktual yang dilakukan oleh KPU sebagai pembuktian kebenaran bukti dukungan. Saya berbicara kepada setiap orang yang bersedia mendengar, saya pergi ke berbagai pertemuan yang telah dijadwalkan pada semua lapisan dan kelompok masyarakat dalam wilayah propinsi Jambi - Ke manapun saya pergi, saya selalu mendapatkan berbagai versi dari ungkapan yang sama - Kami sudah terlalu kecewa dengan sebagian besar anggota DPR / DPD maupun DPRD Prop / kabupaten kota selama ini - dan kami harap serta kami doakan anda tidak seperti mereka. Saya sudah akrab dengan ungkapan itu - sebuah ragam atas kekecewaan rakyat terhadap wakil mereka yang sudah mereka pilih pada periode yang lalu. Ungkapan tersebut menandai sinisme, bukan saja terhadap politik tetapi juga terhadap setiap gagasan tentang kehidupan publik. Sebuah sinisme yang setidaknya di berbagai daerah sepropinsi Jambi yang akan saya representasikan. Telah lama dipelihara oleh generasi tanpa harapan.
Sebagai jawabannya biasanya saya tersenyum lalu mengatakan bahwa saya memahami skeptisisme itu. Tetapi saya yakin, dan selalu yakin, akan ada tradisi politik yang lain, sebuah tradisi yang membentang dari masa yang lalu - di saat pendirian negara ini hingga kemenangan gerakan hak-hak sipil - Sebuah tradisi yang didasarkan atas gagasan sederhana bahwa kita memiliki ikatan satu sama lain, dan ikatan yang menyatukan kita jauh lebih kuat - dibandingkan sesuatu yang dapat memisahkan kita. Jika Ada cukup banyak orang yang percaya pada kebenaran proposisi itu dan bertindak sesuai dengannya - maka saya percaya kita tidak hanya dapat menyelesaikan setiap persoalan - tetapi kita juga mampu melakukan sesuatu yang lebih bermakna. Saya tidak yakin bahwa mereka yang mendengarkan penyampaian saya semuanya terkesan. Cukup banyak dari konstituen yang saya temui, mereka mengapresiasi kesungguhan dan semangat muda saya sehingga saya berhasil mengumpulkan pernyataan dukungan yang dibuktikan dengan photo copy KTP sebagai sarat pencalonan saya dan ditetapkannya saya sebagai calon anggota DPD RI periode 2009-2014 oleh KPU.
Ketika DCT calon anggota DPD beberapa waktu yang lalu ditetapkan, setelah saya mengetahui bahwa terdapat beberapa calon yang telah ditetapkan adalah wajah lama dan beberapa pelaku bisnis dengan membawa ide-ide untuk mendapatkan kembali kursi lamanya - melanggengkan usaha dan kepentingan mereka - menjadikan beberapa rencana yang sudah saya susun berhenti sementara, yang mungkin uang ratusan juta bahkan miliaran yang mereka miliki akan memecah suara dan kesempatan sekecil apapun yang telah saya dapatkan sebelum ini.
Saya tidak peduli, setelah terbebas dari semua ketakutan yang tak beralasan dengan berbagai harapan serta kredibilitas saya didukung oleh pendanaan yang membantu dari beberapa orang sahabat dan ketulusan dari beberapa masyarakat sehingga mereka membentuk mesin politik dengan sendirinya - mereka mengapresiasi kesungguhan dan semangat muda saya. Saya memasuki pertarungan ini dengan energi dan kesenangan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya karena Saya dibantu oleh orang-orang di setiap tempat - daerah secara sukarela dan tanpa pamrih, nilai-nilai luhur inilah yang menumbuhkan semangat dan kesenangan yang luar biasa bagi saya.
Meskipun kebanyakan saya sosialisasi ke daerah bersama rombongan, tak jarang saya harus mengendarai mobil sendirian dari desa/kelurahan ke desa/kelurahan kemudian dari kecamatan ke kecamatan pada akhirnya hilir mudik ke kabupaten-kabupaten, tanpa jaringan komunikasi seperti di Kota, Saya hanya mengharapkan mesin politik saya di tiap-tiap daerah untuk mengatur jadwal pertemuan di daerah mereka masing-masing dan membukakan pintu rumah mereka sebagai tempat saya atau siapa pun orang yang membantu saya untuk menginap.
Tetapi apakah saya bertemu dua atau lima puluh orang, apakah saya berada dalam satu rumah yang terawat dengan baik ( rumah mewah ) atau rumah petani dan buruh, atau apakah orang orangnya ramah, acuh tak acuh, saya berusaha melakukan yang terbaik, tetap mendengarkan apa yang mereka katakan. Saya mendengar mereka membicarakan masalah pekerjaan, harga sembako dan BBM yang terus naik, harga jual karet dan sawit yang menurun, biaya sekolah yang sangat berat, tidak tersedianya lapangan pekerjaan serta kemarahan mereka terhadap pemerintah dan kawan-kawan anggota partai, DPR/DPD serta DPRD Propinsi dan kabupaten yang sudah duduk – tidak pernah peduli dengan nasib mereka. Ternak-ternak mereka, penyakit yang mereka derita, dan segala hal tentang lebih dan kurang mereka serta mahalnya biaya berobat yang mereka tidak mampu untuk membayarnya - sebagian besar dari mereka adalah pengangguran akibat tertutupnya lapangan pekerjaan mereka yang selama ini - kebanyakan dari mereka adalah buruh atau pekerja industri kayu. dan mereka tidak banyak memberi perhatian pada politik.
Yang saya terkejut adalah betapa sederhananya harapan mereka, dan seberapa besar tampaknya kepercayaan mereka berharap datangnya perubahan. Sebagian besar dari mereka berpikiran bahwa setiap orang yang ingin bekerja seharusnya mampu mendapatkan pekerjaan yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka percaya, setiap anak seharusnya mendapatkan pendidikan yang baik, bukan sekedar menjadi rangkaian pembicaraan - meski orang tua mereka tidak mampu dan itu adalah tanggung jawab negara.
Begitulah, tidak banyak. Dan meskipun mereka memahami bahwa bagaimana mereka menjalani kehidupan ini, sebagian besar tergantung upaya mereka sendiri, mereka tidak mengharapkan pemecahan seluruh persoalan mereka dari pemerintah - dan tentunya mereka juga tidak suka menyaksikan uang pajak yang mereka bayarkan dan pembagian hasil pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi dihambur hamburkan, tanpa mereka bisa menikmati dari semua itu sesuai harapan – dan hanya jadi penonton setiap hari sumber daya alam dan sumber daya ekonomi daerah dikeruk oleh perusahaan yang tidak pernah mengembalikan hak mereka – tidak pernah sadar bahwa sumber daya alam dan ekonomi yang perusahaan itu kelola adalah hak mereka dan bahkan mereka tak jarang harus menerima perlakuan yang tidak seharusnya dari perusahaan yang mengelola sumber daya alam dan ekonomi di daerah mereka. Mereka berpendapat pemerintah seharusnya mengutamakan kepentingan bersama – pemerintah seharusnya membantu dan berpihak kepada mereka.
Saya katakan kalau mereka memang benar: pemerintah tidak mungkin dapat menyelesaikan seluruh persoalan mereka. Tetapi dengan sedikit perubahan dalam skala prioritas kita dapat memastikan bahwa setiap warga berhak mendapatkan perlakuan yang layak dalam kehidupan – setiap rakyat berhak mendapatkan bagi hasil dari pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi daerah mereka, dan kita harus menghadapi tantangan sebagai sebuah bangsa. Syukur biasanya mereka setuju dan sependapat dengan saya - dan bertanya bagaimana cara mereka untuk membantu saya dan bagaimana mereka bisa dilibatkan untuk memenangkan saya. Dan pada saat saya kembali setelah pertemuan dengan mereka - saya menyadari mengapa saya terjun ke dunia politik dan inilah yang harus saya lakukan.
Seiring beberapa pertemuan yang saya lakukan dalam perjalanan kampanye - . pertemuan dengan para pemilih yang meneguhkan fundamental rakyat Indonesia, mereka juga mengingatkan saya bahwa dalam inti pengalaman Indonesia terdapat serangkaian cita-cita yang terus menerus mengarahkan kesadaran kolektif kita; serangkaian nilai-nilai bersama yang menyatukan kita meskipun kita berbeda; benang merah harapan yang membuat eksperimen mustahil kita dalam demokrasi akan berhasil. Nilai-nilai serta cita-cita ini menemukan ekspresinya bukan hanya dalam berbagai lempengan monumen pualam, atau buku sejarah. Nilai serta cita-cita itu tetap hidup dalam hati dan pikiran sebagian besar rakyat Indonesia – dan dapat menginspirasi kita pada kebanggaan, tugas, dan pengorbanan.
Saya mengakui banyak risiko berbicara seperti ini. Dalam era sekarang ini, politik yang membunuh dan perang budaya tak kunjung usai, bahkan tampaknya kita tidak memiliki bahasa bersama yang dapat digunakan untuk mendiskusikan cita-cita kita, tidak memiliki alat mencapai kesepakatan sederhana tentang bagaimana, sebagai sebuah bangsa, kita mungkin bekerja sama mewujudkan cita-cita itu. Sebagian besar dari kita sangat bijak dengan cara-cara yang dilakukan para pengiklan, pengumpul suara, penulis pidato, dan kaum terpelajar. Kita tahu bagaimana kata-kata yang melambung tinggi dapat disebarluaskan demi melayani tujuan sinis, dan bagaimana sentimen yang paling mulia dapat di subversi atas nama kekuasaan, kelayakan, ketamakan, atau intoleransi. Bahkan buku teks sejarah di sekolah berstandar tinggi pun mencatat tingkat sampai di mana, sejak permulaannya, realitas kehidupan bernegara telah menyimpang dari berbagai mitosnya. Dalam iklim semacam ini, setiap penegasan cita-cita atau nilai bersama, mungkin tampaknya sama sekali naif, jika bukan sangat berbahaya - sebuah upaya menutupi berbagai perbedaan serius dalam kebijakan, kinerja atau yang lebih buruk, sebuah cara untuk membungkam berbagai keluhan mereka yang merasa diabaikan oleh peraturan kelembagaan saat ini.
Akan tetapi argumen saya, kita tidak punya pilihan. Kita tidak membutuhkan sebuah jajak pendapat untuk mengetahui kalau sebagian besar warga negara walau berbeda partai, berbeda ras dan lapisan sudah letih dengan zona mati yang di ciptakan oleh politik, di mana berbagai kepentingan sesaat dan sementara bersaing mendapatkan keuntungan dan ideologi minoritas berusaha memaksakan versi kebenaran mutlak mereka sendiri. Apakah kita berasal dari berbagai etnis dan suku yang ada, kita merasakan sangat kurangnya kejujuran, kecermatan, dan akal sehat dalam berbagai debat publik yang kita lakukan, dan tidak menyukai apa yang tampak sebagai menu kepalsuan yang berkepanjangan atau pilihan-pilihan yang terkekang. Kita menyadari bahwa tantangan bangsa yang terpenting sedang diabaikan, dan bahwa jika kita tidak segera merubah cara itu, kita mungkin akan jadi generasi dalam sejarah yang membiarkan Indonesia lebih lemah dan lebih hancur daripada yang kita warisi. Mungkin lebih dari masa-masa sebelum ini, kita membutuhkan politik model baru yang dapat menggali dan membangun di atas pemahaman dan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan kelompok - model politik yang dapat menyatukan kita sebagai warga negara.
Sekarang bagaimana kita dapat memulai proses perubahan politik dan kehidupan kita sebagai warga negara. Saya sama sekali tidak bermaksud mengatakan kalau saya tahu cara melakukannya, pemerintahan sekarang salah, namun yang saya sampaikan di sini adalah refleksi-refleksi personal nilai dan cita-cita yang telah membimbing saya menuju kehidupan publik yang telah membimbing saya menuju dunia politik. Selain itu saya berharap beberapa pemikiran tentang tata cara yang dapat kita gunakan untuk mendasarkan politik kita pada gagasan tentang kemaslahatan atau kepentingan bersama dan tidak seharusnya memecah belah kita. Sekarang mari kita mulai bagaimana saya, atau publik figur manapun, harus menghindari perangkap popularitas, dahaga akan kesenangan, takut akan kehilangan, dan mempertahankan inti kebenaran, seyogyanya nurani dalam diri kita masing-masing senantiasa mengingatkan kita akan komitmen terdalam memperjuangkan dan mengembalikan hak-hak setiap warga negara tanpa terkecuali. Saya tidak yakin saya dapat bersikap jujur seperti sekarang apabila saya terpilih menjadi Anggota DPD RI, sangat menyenangkan bagi saya apabila saya terpilih saya masih bisa seperti ini, tiada daya upaya yang bisa saya lakukan kecuali memohon perlindungan dari Allah SWT untuk menyelamatkan saya apabila saya terpilih serta doa dari saudara / saudari agar Allah SWT menyelamatkan saya dan selalu memberi saya petunjuk apabila terpilih sangat saya harapkan.

SISITEM POLITIK

June 9th, 2008 by dpdri2009
Politik itu adalah pola manajemen kolektif suatu kumpulan
masyarakat dalam rangka mengatur sesuatu yang menyangkut batas-batas
kepentingan,hak dan kewajiban masing-masing atau bersama-sama,dalam
rangka memproses dan mencapai upaya penyejahteraan hidup yang mereka
rundingkan dan sepakati. dengan demikian politik bisa berarti tata
negara,tata kerajaan,tata masyarakat juga tata adat. jadi tergantung
spektrum sosiologis masyarakat yag dimaksud.

var curDiv = document.getElementById(’ln0′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln1′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Politik
harus berpihak kepada kepentingan masyarakat, ideal nya sistem politik
harus selalu memperjuangkan kepentingan masyarakat, bukan kepentingan
pasar bebas,kapitalisme global dsb. meskipun harus memakai
sistem-sistem tertentu, politik harus berdasarkan kebudayaan,norma dan
etika, tanpa bisa di intervensi untuk memudahkan sistem-sistem atau
kepentingan-kepentingan tertentu.

var curDiv = document.getElementById(’ln2′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln3′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

oleh
karena itu politik adalah kebersamaan,kebersamaan sosial,saling
memperhatikan kesejahteraan satu sama lain, saling memperjuangkan
kepentingan satu dan yang lain dan membutuhkan naluri kewarganegaraan,
bagaimana manusia tetap dimanusiakan, serta harus kembali memanusiakan
diri.

var curDiv = document.getElementById(’ln4′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln5′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

kepentingan
kolektif masyarakat adalah tujan utama dari politik, demi tercapainya
kesejahteraan, keadilan dalam masyarakat, dan harus selalu mengakar
kepada kebudayaan masyarakat yang dimaksud.

Al-I’tiraf (Sebuah Pengakuan )

June 6th, 2008 by dpdri2009

Ya Allah, saya bukanlah hambaMu yang pantas memasuki surga firdausMu

Tidak juga saya mampu akan siksa api nerakaMu

Berilah hambaMu ini ampunan dan hapuskanlah dosa-dosaku

Sesungguhnya hanya Engkaulah Sang Maha Pengampun Yang Maha Agung

Dosa-dosaku bak butiran pasir dipantai
Anugrahilah ampunanMu wahai Yang Maha Agung

Umurku berkurang setiap hari
sedang dosa-dosaku terus bertambah

Ya Allah, hambaMu yang penuh maksiat ini bersimpuh menghadapMu
mengakui dosa-dosanya dan memohon padaMu

Ampunilah, karena hanya Engkaulah Sang Pemilik Ampunan

Bila Kau campakkan aku, kepada siapa dan kemana aku mesti berharap selain dariMu?

Tiga Tahanan

May 15th, 2008 by dpdri2009
bahwa ada 3 orang tahanan yang berada dalam satu sel .
Para tahanan itu saling memberitahu bagaimana mereka bisa sampai
ditahan disitu . Tahanan pertama bercerita " Saya dipenjara , karena
saya anti dengan Che Guevara " . Seperti diketahui Che Guevara memimpin
perjuangan kaum sosialis di Kuba .

var curDiv = document.getElementById(’ln0′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln1′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Tahanan
kedua berkata geram ," Oh kalau saya dipenjara karena saya pengikut Che
Guevara !" .Lalu mereka berdua terlibat perang mulut . Tapi mendadak
mereka teringat tahanan ketiga yang belum ditanya . " Kalau kamu kenapa
sampai dipenjara disini " tanya mereka berdua kepada tahanan ketiga .

var curDiv = document.getElementById(’ln2′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

var curDiv = document.getElementById(’ln3′);
curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);
var links = curDiv.getElementsByTagName(’a');
for(var i = links.length; i >= 0; –i) {
if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + “…”;
}

Lalu tahanan ketiga itu menjawab dengan berat hati ," Karena saya Che Guevara !" .

MEMBUANG PRESIDEN

May 15th, 2008 by dpdri2009

ini cerita tentang seorang Presiden Diktator yang punya tiga orang anak
. Merasa ayah mereka orang nomor satu di negerinya , maka anak-anak
sang Presidenpun lantas bertindak neko-neko . Anak kedua Presiden ingin
mencari popularitas dengan menyebarkan jutaan uang kertas cari sebuah
pesawat terbang . Kakaknya juga tidak mau kalah pamor . Dengan pesawat
yang digunakan adiknya sebelumnya , sang kakak menyebarkan jumlah uang
jauh lebih banyak dari adiknya . Anak perempuan presiden juga ingin
populer , tapi tidak mau meniru cara yang dilakukan oleh kedua kakaknya
. Karena bingung , ia pun bertanya kepada pilot pesawat yang ikut
menyebarkan uang bersama kedua kakanya itu . " Mas Kapten , aku ingin
populer seperti dua kakakku sebelumnya , tapi tindakan populer apa yang
bisa membahagiakan rakyat ? " . " Gampang sekali , buang saja ayah nona
dari atas pesawat ".

May 15th, 2008 by dpdri2009

Gelombang pemiskinan terjadi lagi di Tanah Air yang dipicu kenaikan
harga bahan bakar minyak (BBM), yang sebelumnya telah didahului
melambung dan langkanya minyak goreng, terigu, minyak tanah serta gas,
sehingga banyak usaha kecil dan menengah yang ambruk. Ribuan pedagang,
mulai dari penjual gorengan, bakso, mi dorong hingga warung tegal pun
rontok secara bergiliran. Sebelumnya, perusahaan roti dan tempe banyak
yang gulung tikar karena melambungnya bahan baku.

Semua kenaikan itu menyebabkan ambruknya usaha rakyat yang berakibat
terjadinya kemiskinan massal. Hal ini terjadi akibat kebijakan ekonomi
politik pemerintah yang tidak memihak pada kepentingan rakyat dan
kepentingan bangsa, melainkan hanya berpihak pada kepentingan pengusaha
besar. Mereka disubsidi habis-habisan, mendapatkan akses bank yang
sangat besar. Sementara, usaha rakyat satu persatu dipreteli lewat
berbagai keputusan politik yang kolutif.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia dikaruniai kekayaaan
yang sangat melimpah, mulai dengan tanah yang subur yang bisa ditanami
berbagai bahan kebutuhan. Laut dengan kekayaan yang tak terbatas, serta
tanah yang mengandung beraneka tambang mulai dari minyak, gas, emas,
batubara dan sebagainya. Apabila kekayaan tersebut diambil dan dikelola
dengan semestinya, tentu akan menjadikan bangsa ini kaya raya. Hanya
saja karena kesalahan para pemimpin, maka kita menjadi miskin di tengah
alam yang kaya raya.

Sejak orde baru berdiri, negeri ini telah kehilangan kedaulatannya,
seluruh sektor kehidupan mulai dari politik, ekonomi, pendidikan
kebudayaan semuanya diatur oleh pihak asing yang memberikan hutang pada
Indonesia. Akibat yang paling fatal adalah penguasaan pada sumber alam.
Pada awalnya monopoli asing terhadap sumber alam itu masih belum
seberapa, tetapi hari demi hari semakin terpusat. Lebih celaka lagi
bangsa ini dijebak dengan berbagai hutang yang takterbayarkan baik
karena dimanipulasi negara pemberi utang maupun dikorupsi peminjamnya.

Dulu ketika Indonesia masih sebagai negara pengekspor minyak, bangsa
ini menjadi makmur ketika terjadi kenaikan harga minyak dan gas. Tetapi
ketika seluruh sumber alam telah dikuasai asing, maka seluruh hasil
tambang tidak lagi membawa kemakmuran bagi rakyat Indonesia. Seperti
kenaikan harga minyak dunia saat ini, semestinya Indonesia menjadi
negara petro dollar. Tetapi yang terjadi justru sebaliknya, Indonesia
malah mengalami kerugian besar, karena terjadi pembuletan logika,
negeri ini sebagai eksportir tetapi juga sekaligus sebagai importir.

Ketika kekayaan alam terutama minyak dan gas yang melimpah itu semuanya
telah menjadi milik orang lain, karena kelengahan para pemimpin politik
yang mengambil keputusan. Akhirnya negara tidak berkutik menghadapi
para pengusaha asing pemilik sumber alam kita. Mereka mengeskploitasi
sumber alam kita untuk keperluan negara mereka, bangsa Indonesia hanya
diberi sisanya, sementara keseluruhan biaya investasi ditanggung bangsa
ini.

Para elit politik kita yang sudah tidak berdaya itu dengan mudah
didikte, sehingga perusahaan-perusahaan milik negara yang lain, juga
satu-persatu mulai diserahkan pada perusahaan asing, seperti Indosat
dan beberapa pabrik semen. Sementara itu, banyak pula
perusahaan-perusahaan yang juga akan segera dijual seperti Garuda
Indonesia, pertambangan-pertambangan, PLN dan Krakatau Steel, yang
merupakan industri dasar yang selama ini menjadi penopang industri
nasional.

Karenanya, bangsa Indonesia mesti menghentikan proses swastanisasi
(perampokan) perusahaan negara, sebab kalau ini diteruskan bangsa ini
akan semakin miskin dan tak berdaya. Secara lebih tegas bangsa ini
harus berani melakukan upaya nasionalisasi terhadap berbagai perusahaan
milik negara yang saat ini dikuasai asing.

Memang dibutuhkan pemerintahan yang kuat dan berani dan rakyat harus
dimilitansi, karena nasionalisasi akan mendapat tantangan yang berat,
bukan hanya dari perusahaan kapitalis dan imperialis asing, tetapi juga
dari bangsa sendiri yang telah kehilangan kepedulian pada rakyat dan
telah kehilangan komitmen terhadap negara dan bangsa.

Langkah ini pernah dilakukan bangsa Indonesia sesaat setelah
kemerdekaan, sehingga bangsa kita waktu itu tidak hanya
memproklamasikan kemerdekaan secara politik, tetapi juga diikuti
kemerdekaan secara ekonomi dengan secara bertahap menasionalisasi
seluruh perusahaan kolonial yang menghisap kekayaan bangsa ini.

Hanya cara ini yang bisa menyelamatkan negeri ini. Sudah banyak contoh
baik di Asia maupun di Amerika Latin, setelah mereka mampu
menasionalisasi sistem politik dan sistem ekonominya, negara menjadi
segera bangkit dan rakyat menjadi sejahtera sehingga menjadi bangsa
yang bermnartabat.

Usaha nasionalisiasi ini memang butuh perjuangan, sebagaimana usaha
untuk kemerdekaan, tetapi sesulit apapun langkah ini harus
diperjuangkan walaupun pemerintah berjanji pada para perusahaan
kolonial tidak akan melakukan hal ini. Tetapi rakyat dan bangsa harus
tetap melakukannya demi kemakmuran rakyat dan kejayaan bangsa

MENEBAK USIA MUMMI DI GIZA MESIR

April 29th, 2008 by dpdri2009
Puluhan negara diundang oleh pemerintah Mesir, untuk mengirimkan tim ahli paleoantropologinya yang terbaik . Tapi, pemerintah Indonesia lain dari yang lain, namanya juga jaman orde baru yang waktu itu masih bergaya represif misal banyaknya penculikan para aktivis . Makanya pemerintah mengirimkan seorang aparat yang komandan intel .

Tim Perancis tampil pertama kali, membawa peralatan mutakhir, ukur sana ukur sini, catat ini dan itu, kemudian menyerah tidak sanggup . Pakar Amerika perlu waktu yang lama, tapi taksirannya keliru . Tim Jerman menyatakan usia mumi itu tiga ribu dua ratus tahun lebih sedikit, juga salah . Tim Jepang juga menyebut di seputar angka tersebut, juga salah .

Giliran peserta dari Indonesia maju, Pak Komandan ini bertanya pada panitia, bolehkah dia memeriksa mumi itu di ruangan tertutup .

"Boleh, silahkan," Jawab panitia .

Lima belas menit kemudian, dengan tubuh berkeringat pak komandan itu keluar dan mengumumkan temuannya kepada tim juri .

"Usia mumi ini lima ribu seratus dua puluh empat tahun tiga bulan tujuh hari," Katanya dengan lancar, tanpa keraguan sedikit pun .

Ketua dan seluruh anggota tim juri terbelalak dan saling berpandangan, heran dan kagum . Jawaban itu tepat sekali ! Bagaimana mungkin pakar dari Indonesia ini mampu menebak dengan tepat dalam waktu sesingkat itu ? hadiah pun diberikan . Ucapan selamat mengalir dari para peserta, pemerintah Mesir, perwakilan negara-negara asing dan sebagainya dan sebagainya . Pemerintah pun bangga bukan kepalang .

Menjelang kembali ke Indonesia, Pak komandan dikerumuni wartawan dalam dan luar negeri di lobby hotel .

"Anda luar biasa," kata mereka . " Bagaimana cara anda tahu dengan persis usia mumi itu?"

Pak komandan dengan enteng menjawab,"saya gebuki, ngaku dia ."

JIN DAN TIGA MANUSIA

April 29th, 2008 by dpdri2009

pernah ada sebuah kapal berisi penumpang berbagai bangsa karam. Ada tiga orang yang selamat, masing-masing dari Perancis, Amerika dan Indonesia. Mereka terapung-apung di tengah laut dengan hanya mengandalkan sekeping papan.

Tiba-tiba muncul jin yang baik hati. Dia bersimpati pada nasib ketiga bangsa manusia itu, dan menwarkan jasa. "Kalian boleh minta apa saja, akan kupenuhi," kata sang jin. Yang pertama ditanya adalah si orang Perancis.

"Saya ini petugas lembaga sosial di Paris," katanya.
"Banyak orang yang memerlukan tenaga saya. Jado tolonglah saya dikembalikan ke negeri saya." Dalam sekejap, orang itu lenyap, kembali ke negerinya.

"Kamu, orang Amerika, apa permintaanmu?"

"Saya ini pejabat pemerintah. Banyak tugas saya yang terlantar karena kecelakaan ini. Tolonglah saya dikembalikan ke Washington."

"Oke," kata jin, sambil menjentikkan jarinya. Dan orang Amerika lenyap seketika, kembali ke negerinya.

"Nah sekarang tinggal kamu orang Indonesia. Sebut saja apa maumu."

" Duh, Pak Jin, sepi banget disini," keluh si orang Indonesia. "Tolonglah kedua teman saya tadi dikembalikan ke sini."

Zutt, orang Perancis dan Pria Amerika itu muncul lagi.

HILANG NYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

April 26th, 2008 by dpdri2009

Perjalanan pertama di mulai pada hari rabu  tgl 16-04-2008 pukul 05.30. untk mendapatkan dukungan sebagai syarat sebagai calon dari 50 kab / kota se prop. bersama seorang sahabat lama, saya sendiri sbg staf yg beliau percayakan untk me manage proses pencalonan beliau, dan slh seorang keluarga beiau yg slm ini sbg driver sehari-hari beliau. dengan mengantongi beberapa alamat dan no ponsel sahabat,keluarga,komunitas,relasi,dan beberapa orng mantan murid beliau ketika menjadi tenaga pendidik, kami memulai perjalanan dalam proses pencalonan.
Hilang nya kepercayaan masyarakat terhadap produk pemilu tahun 2004 selalu ditemui dalam setiap kesempatan silaturahmi di berbagai tempat. kekecewaan masyarakat terhadap hasil produk pemilu tahun 2004 selalu menjadi bahan pembicaraan,masukan,dan harapan masyarakat terhadap beliau. Doa kami selalu bersama saudara dan anda,kami percaya terhadap anda, dukungan akan selalu kami berikan untuk saudara. kami yakin dan percaya kepada anda, saudara. walau kami sudah kecewa dengan para wakil kita slama ini, demikian sekilas ungkapan, keluhan,harapan  konstituen yg  ditemui.Ironis sekali ketika kita menemukan hal seperti ini, sangat kita sayang kan.
Dalam jangka waktu hampir 24 jam kami telah berhasil mendapatkan dukungan dari konstituen tidak kurang dari 3000 jiwa dan mewakili 6 kabupaten dari seluruh kab/kota se prop jambi. sebagai syarat untk pencalonan dirasakan sdh melebihi batas minimal. sesuatu yang sangat tidak disangka,dan saya sendiri sangat tidak percaya dalam perjalanan perdana beliau, beliau sdh mampu mendapatkan dukungan melebihan batas minimal dan mewakili lebih dari 50 % kab/kota se prop jambi dalam tempo waktu tidak lebih dari 24 jam, kamis esok hari nya jam 04.30 wib kami sdh sampai di rumah dengan hasil kerja yang sangat memuaskan untuk tahap awal.walau  dlm  perjalanan cukup banyak keluhan -keluhan  masyarakat yang harus dijadikan sebagai bahan masukan, pembelajaran, dan tanggung jawab moral di waktu dan masa yang akan datang.
Sebuah harapan yamg tidak boleh dikesampingkan dari sanubari masyarakat tanpa ada unsur dan kepentingan apa-apa, perwujudan dari kondisi real kehidupan yang mereka rasakan se hari-hari.